October 1, 2009

lagi-lagi tentang media… (pandangan saya atas pelaporan media mengenai terjadinya gempa di sumatera barat)

“Di perut Sumatera terbentang bom waktu berupa Patahan Semangko, hasil penunjaman Lempeng Eurasia thd Lempeng Indo-Australia yg melesak dg kecepatan 5-7 cm per tahun. Seorang pakar gempa bahkan menyebut Gempa Pariaman kemarin masih lebih kecil skalanya drpd yg diprediksikan.”

Demikian status di facebook yang ditulis oleh seorang kawan karib saya yang saat ini bekerja sebagai jurnalis di sebuah stasiun televisi swasta. Bagaimana perasaan anda ketika membaca kalimat tersebut? kalau saya, saya merasa itu informasi yang besar, menakutkan, dan cukup membuat saya panik dan tidak tenang, karena saya tidak tahu harus ngapain dengan informasi itu.

Tadi pagi saya secara random menonton siaran televisi untuk melihat laporan mengenai kejadian gempa di sumatera barat. Di sebuah stasiun televisi swasta saya berhenti sejenak memperhatikan siarannya. Disitu ditampilkan dua layar. Layar dari Padang, seorang bapak diwawancarai oleh presenter berita dari studio di Jakarta. Anak perempuan bapak tersebut menjadi salah satu yang masih tertimbun reruntuhan bangunan sekolah. Kemudian sang presenter tersebut menanyakan beberapa pertanyaan bertubi-tubi… “apa kenangan sang bapak terhadap anaknya?” lalu bapak tersebut bercerita mengenai perjalanan lebaran ke bukittinggi, dan sang anak dibelikan jam tangan. kemudian sang presenter bertanya, “bagaimana perasaan anak bapak?” “apakah dia senang dengan jam tangan itu?” dan mulailah bapak tersebut terisak menangis… saya matikan televisi.

Dua cerita tadi, status FB dan cara presenter televisi mewawancarai narasumber, membuat saya geregetan. Sadarkah mereka apa sebenarnya fungsi mereka sebagai jurnalis? apakah hanya untuk membuat suasana drama? oya, saya jadi ingat… semua acara televisi di Indonesia kan isinya hanya drama rekayasa… yang dijual hanya orang marah2, nangis2… dan saya kira itu hanya di acara2 non berita, tapi ternyata di acara berita juga menawarkan format yang sama.

Ya, saya sering mendengar bahwa bagi jurnalis, bad news is good news. Tapi apakah hanya berhenti disitu saja tugas mereka? untuk menyampaikan informasi saja? Sadarkah mereka bahwa mereka itu juga pendidik bagi penonton televisi? Dan mereka punya kesempatan SANGAT BESAR untuk membuat penonton siaran televisi menjadi LEBIH CERDAS.

Informasi yang disampaikan oleh teman saya lewat status FB itu sangat penting, tapi akan jauuuuhhh lebih baik jika dibahasakan ulang dan juga disertai informasi lain mengenai bagaimana kita harus menyikapi keadaan seperti itu; informasi yang masih sangat minim kita dapatkan dari acara-acara televisi kita. Kabarkanlah, apa yang harus dilakukan oleh masyarakat kalau ada gempa susulan untuk mengurangi risiko bencana.

Pemberian pengetahuan pada penonton ataupun pembaca mengenai siaga bencana adalah jauh lebih berharga daripada informasi bombastis yang ditulis teman saya tersebut, ataupun berusaha menguras airmata sang bapak tadi.

September 22, 2009

From Semarang with Peace

Dicanangkan oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) melalui resolusi di tahun 1981, Hari Perdamaian Internasional atau dikenal dengan nama “Peace Day” dirayakan pertama kalinya pada September 1982. Pada tahun 2002, Sidang Umum PBB menetapkan tanggal 21 September sebagai tanggal yang tetap untuk Peace Day. Info lebih lengkap mengenai Peace Day bisa didapatkan di: http://internationaldayofpeace.org/

Dengan semangat untuk memasyarakatkan Peace Day ini, kami pada tanggal 21 September 2009 melakukan sebuah aksi damai membagikan pin dan flyer Peace Day kepada 21 orang dan kelompok orang di seputaran Lapangan Simpang Lima, Semarang. Kami berdialog dengan mereka, menanyakan apakah mereka sudah mengetahui Peace Day dan apakah arti damai bagi mereka.

Semoga aksi damai ini dapat menjadi inspirasi bagi kita semua untuk melakukan aksi-aksi damai lainnya dalam hidup kita, aksi damai yang bisa berupa tindakan sederhana seperti memberikan sebuah senyum kepada orang yang kita temui. Setiap kita adalah aktor penting dalam usaha mewujudkan perdamaian. Jadi, apakah aksi damai anda hari ini? :)

silakan klik tiap foto dibawah ini, dan temukan komentar-komentar mereka tentang arti damai…

August 8, 2009

Nasionalisme dan Pekerja Televisi

na•si•o•na•lis•me n 1 paham (ajaran) untuk mencintai bangsa dan negara sendiri; sifat kenasionalan: — makin menjiwai bangsa Indonesia; 2 kesadaran keanggotaan dl suatu bangsa yg secara potensial atau aktual bersama-sama mencapai, mempertahankan, dan mengabadikan identitas, integritas, kemakmuran, dan kekuatan bangsa itu; semangat kebangsaan

Begitulah arti nasionalisme yang saya dapatkan dari Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) Dalam Jaringan (http://pusatbahasa.diknas.go.id/kbbi/index.php). Untuk menyambut perayaan hari kemerdekaan Republik Indonesia yang ke 64 ini, saya tertarik untuk menulis tentang nasionalisme dan pekerja televisi. Ide ini muncul seketika ketika dalam rapat dua mingguan di dalam tim kerja kami, seorang teman tiba-tiba mengemukakan keprihatinannya terhadap beberapa acara televisi yang dikemas dalam bentuk reality show yang banyak sekali menunjukkan adegan-adegan kekerasan.

Berangkat dari arti nasionalisme yang ada dalam KBBI tadi, bahwa untuk menunjukkan nasionalisme kita, kita harus berbuat secara nyata yang tujuannya untuk mempertahankan identitas dan integritas, juga membangun kemakmuran dan kekuatan bangsa kita sendiri. Ada banyak cara untuk mewujudkannya, dan tentunya sesuai dengan kapasitas kita masing-masing.

Pembentukan kepribadian bangsa melalui pendidikan adalah hal yang utama dan akan selalu menjadi hal yang utama sampai kapanpun juga. Pendidikan baik dalam bentuk formal, non formal, maupun informal. Dalam pendidikan informal, pembelajaran melalui televisi mempunyai peran yang amat sangat besar saat ini. Saya tidak mempunyai datanya, tapi mari kita coba tengok, berapa banyak keluarga ataupun rumah di Indonesia ini yang punya televisi? Bahkan keluarga sederhana pun hamper dipastikan punya televisi. Begitu banyak waktu yang dihabiskan oleh masyarakat di Indonesia di depan layer televisi. Baik itu anak-anak, remaja, orang tua, laki-laki, perempuan, dari berbagai tingkat pendidikan. Ya, siaran televisi telah menjadi salah satu agen penting dalam pembentukan karakter dan kepribadian bangsa. Lihat saja anak atau keponakan kita, yang belajar banyak hal dari siaran televisi. Saya ingat pada keponakan saya yang masih berusia 4 tahun. Orangtuanya sangat kaget ketika si keponakan saya ini mengucapkan kata-kata kasar ketika dia marah, dan itu ternyata dia pelajari dari siaran televisi yang ditontonnya. Contoh seperti ini buanyaaaaaakkkk sekali terjadi, iya kan?

Kita seringkali mengecam siaran-siaran televisi ini yang tidak baik sebagai media pendidikan. Kita meminta Komisi Penyiaran Indonesia untuk menyeleksi siaran-siaran. Kita meminta stasiun-stasiun televisi untuk memperbaiki siaran-siarannya. Ya, itu salah satu cara yang bisa kita lakukan. Tapi ada juga cara lain yang bisa dijalankan… melalui para pekerja televisi… ya!!! Pekerja televisi, yang memungkinkan sebuah acara televisi dibuat. Ada kameramen, yang bertugas untuk mengedit, penulis skrip, dan lainnya… sebuah acara televisi tidak akan terjadi kan kalau pekerjanya tidak menjalankan tugasnya?

Nah, saat ini saya mengajak para pekerja televisi untuk merenung… bahwa anda sekalian mempunyai peran yang SANGAT BESAR bagi terbentuknya kepribadian Bangsa Indonesia… Anda punya peran yang SANGAT BESAR untuk menjadikan Bangsa Indonesia ini mempunyai kepribadian yang baik atau kepribadian yang buruk… Tunjukkan nasionalisme anda!!! Bekerjalah dan berkreasilah untuk siaran-siaran yang memang berguna untuk membangun keribadian bangsa Indonesia yang baik!!! Saya, dan seluruh Bangsa Indonesia percaya akan kemampuan anda… Anda secara tidak langsung adalah pendidik juga bagi Bangsa Indonesia…

June 19, 2009

menjadi pekerja kemanusiaan

beberapa waktu lalu saya diundang oleh Sekolah Sukma Bangsa untuk menjadi narasumber dalam acara Career Day, sebuah acara yang dirancang untuk memberi pemahaman kepada murid-murid SMA mengenai beragamnya jenis pekerjaan yang dapat mereka kerjakan di masa depan. saya diundang untuk mempresentasikan pekerjaan seorang pekerja kemanusiaan.

pertanyaan-pertanyaan menarik dan menggelitik datang dari para murid mengenai pekerja kemanusiaan…

T:
mengapa abang tertarik pada manusia? (hehehe… maksudnya mengapa saya tertarik pada bidang kemanusiaan)

J:
kenapa saya tertarik pada manusia? pertama-tama ya karena saya adalah manusia hehehe…
nah kalau perkara ketertarikan pada bidang kemanusiaan, terutama pada sisi perdamaiannya, ketertarikan saya dimulai pada seringnya saya melihat, membaca, mendengar cerita tentang konflik kekerasan. padahal kan manusia itu sudah diberi akal pikiran oleh Tuhan… akal pikiran yang seharusnya digunakan untuk memikirkan cara-cara menyelesaikan konflik secara damai, tapi kok beberapa orang malah tidak menggunakan akal pikirannya dengan baik dan menyelesaikan konflik dengan cara-cara yang penuh kekerasan dan membawa kerugian. jadi, saya ingin belajar mengenai bagaimana cara untuk mengajak manusia menggunakan akal pikirannya dengan arif bijaksana, dan menyelesaikan semua masalah yang mereka hadapi dengan cara yang damai.

T:
bagaimana cara menumbuhkan rasa kemanusiaan?

J:
mari kita lihat di luar ruangan diskusi ini. masihkah ada sampah-sampah yang dibuang sembarangan? apakah di perempatan jalan masih banyak pengendara kendaraan bermotor yang menerobos lampu merah? nah, kalau kita ingin menjadi seorang manusia yang punya rasa kemanusiaan, langkah mudah pertama yang bisa kita lakukan adalah jangan pernah lakukan dua hal tadi…
dengan membuang sampah di tempat sampah berarti kita telah berkontribusi tidak hanya untuk kesehatan diri kita, tapi juga kesehatan orang lain… ikut membuat orang lain merasa nyaman karena lingkungannya bersih. berbuat suatu kebaikan, walau tampaknya kecil… dan ketika kita melakukannya kita sadar bahwa hal ini akan berdampak pada orang lain juga… maka disitulah rasa kemanusiaan itu dibangun.

T:
memberi uang itu kan juga bentuk pekerjaan kemanusiaan. jadi, apakah yang dilakukan oleh abang? memberikan uang?

J:
memberikan uang bisa saja disebut sebagai pekerjaan kemanusiaan, tapi ketika kita ingin mendapat hasil yang lebih baik, maka memberi uang saja bukan hal yang tepat. pekerjaan kemanusiaan meliputi berbagai bidang kehidupan manusia. pekerjaan kemanusiaan ditujukan untuk memperbaiki kualitas hidup manusia, baik dalam bidang sosial, ekonomi, politik, hukum, dan lainnya. yang saya lakukan disini adalah bersama-sama masyarakat berusaha membangun kapasitas mereka untuk mampu menyelesaikan masalah-masalah mereka dengan cara yang damai.

bekerja untuk kemanusiaan mungkin tidak akan membuat kita menjadi kaya harta, tapi bahwa kita akan menjadi kaya hati… itu pasti… :)

May 1, 2009

Selamat Jalan Pak Harwanto Dahlan…

hari minggu yang lalu, waktu siang hari, ada sms masuk di hp saya. sms dari mas riza, dosen dan teman saya di HI UGM. tumben banged mas riza sms saya, dan saya kaget ketika membaca isi sms-nya. sms itu mengajak kami, penerima sms, untuk mendoakan pak Harwanto Dahlan, dosen HI UMY, yang kabarnya sedang berada dalam kondisi kritis di JIH.

saya bener-bener kaget. tapi tak lupa saya ikut mendoakan kesehatan pak Harwanto. walaupun saat itu saya juga tidak tahu, beliau sakit apa. karena kalau saya perhatikan, sepertinya beliau ini bukan seseorang yang punya penyakit serius.

tadi malam sekitar jam setengah 8 malam, ketika saya sampai di rumah, tiba-tiba saya kok jadi kepikiran lagi sms mas riza, jadi kepikiran, gimana kabar pak Harwanto. saya sih menduganya kalau tidak ada kabar apa-apa selama hampir seminggu, pastinya keadaannya sudah membaik.

tapi untuk memastikan, saya kemudian sms teman saya yang masih menjadi mahasiswa beliau. ternyata teman saya juga belum tahu kabarnya. tapi teman saya kemudian berkata akan bertanya kepada dosen pembimbingnya. tak berapa lama saya mendapat sms dari teman saya, tapi isinya benar-benar di luar dugaan saya, mengabarkan pak Harwanto Dahlan meninggal dunia.

saya tidak kenal secara langsung dengan pak Harwanto. tapi saya selalu senang kalau datang di acara-acara yang ada beliau. beliau memang dikenal lucu, tapi juga beliau mampu membuat topik-topik yang berat menjadi enak untuk diikuti.

kelucuan beliau sampai membuat beliau pernah menjadi bintang tamu kethoprak dagelan mataram di jogja. waktu itu saya bela-belain nonton, hanya karena ingin melihat kemampuan akting beliau. itulah kali terakhir saya melihat pak Harwanto secara langsung dan mendengar guyon-guyon beliau.

selamat jalan pak Harwanto Dahlan…

April 24, 2009

Membangun Karakter Lewat Pendidikan

ada tulisan yang menarik, yang saya temukan dari: http://www2.kompas.com/kompas-cetak/0003/07/OPINI/memb05.htm

tulisan ini saya temukan ketika saya ingin mencari referensi untuk menulis masalah kepekaan atau sensitivitas sosial. silakan baca yang ini dulu ya, sementara saya akan menulis pemikiran saya… :)

Membangun Karakter Lewat Pendidikan
Oleh Sahid Susanto

BERBAGAI bentuk kerusuhan yang diikuti pembunuhan, penjarahan, bahkan sampai pemerkosaan yang terjadi di beberapa daerah sejak tumbangnya Orde Baru tahun 1998 lalu hingga pemerintahan yang sekarang, tampaknya masih belum ada tanda-tanda akan berakhir. Nilai korban yang berupa ribuan nyawa manusia, aset bernilai sejarah tinggi, bangunan religi, harta maupun harga sosial dan psikologis yang harus dibayar masyarakat, sulit untuk diterima akal sehat.

Berbagai peristiwa beruntun itu menguatkan dugaan ada skenario besar (grand scenario) yang dirancang oleh aktor yang cukup mempunyai intektual dan dana. Dari sini lalu membawa ke pemikiran “dipastikan telah terjadi sesuatu yang tidak semestinya ada di masyarakat”, mulai dari tingkat ‘akar rumput’ sampai elite. Kata kunci yang bisa dipakai untuk menjawab tampaknya adalah “pendidikan.”

Menarik sekali tulisan Amich Alhumami yang menjelaskan keterkaitan yang erat antara pendidikan dengan pembangunan ekonomi suatu bangsa (Kompas, 27/1), intinya pendidikan merupakan pilar penting pembangunan ekonomi. Banyak literatur menjelaskan, investasi di bidang pendidikan secara empiris telah membuktikan lebih produktif dibanding investasi di bidang fisik. Namun, dengan teropong ini juga dapat diartikan, pembangunan ekonomi yang hanya difokuskan dengan satu dimensi “pertumbuhan” mengakibatkan timbulnya gap kaya-miskin yang besar, yang diduga kuat juga merupakan faktor pemicu rentetan peristiwa itu. Tulisan ini akan meneropong rentetan peristiwa itu secara singkat dari sisi lain dengan fokus bahwa pendidikan merupakan pilar dalam pembangunan karakter bangsa.

***

SUDAH lebih dari tiga dasawarsa, namun sangat mencolok di hadapan kita bahwa pendidikan agama, budi pekerti, dan Pancasila yang dilakukan sejak sekolah dasar hingga perguruan tinggi, bahkan pendidikan Pancasila yang juga telah ditatarkan pada pejabat tinggi negara, pegawai negeri pada segala tingkatan hingga organisasi kemasyarakatan, ternyata gagal membawa masyarakat kita ke arah yang lebih baik dalam hal membentuk karakter bangsa. Sulitnya memberantas KKN (korupsi, kolusi, dan nepotisme), sulitnya mencari pimpinan sebagai panutan, dibiarkannya berbagai pelanggaran hak asasi manusia, tiadanya korelasi yang positif antara maraknya masyarakat yang pergi ke tempat ibadah dengan menurunnya tingkat KKN, rendahnya sensitivitas sosial dan lingkungan seperti eksploitasi sumberdaya alam yang cenderung mengabaikan dampak sosial dan lingkungan, merupakan beberapa contoh yang ada di depan mata kita.

Bila dikaitkan dengan pembangunan karakter bangsa, pendidikan bisa diartikan secara lebih sempit sebagai suatu cara membangun dalam berkehidupan bersama. Dalam skala tataran antarkomunitas, tanpa melihat etnis, suku, agama, ras dan sebagainya, berkehidupan bersama berarti telah sepakat secara sadar untuk melakukan ikatan bagi anggotanya menjadi suatu komunitas yang dilakukan dalam wilayah yang pasti dan sah, serta diakui komunitas masyarakat lainnya (baca: internasional). Dari sudut pandang inilah kemudian timbul berbagai teori tentang bangsa dan negara.

Rentetan peristiwa kerusuhan yang diikuti berbagai gejolak yang terjadi (khususnya di Aceh, Papua, Riau, Sulawesi Selatan, Kalimantan Timur) akhir-akhir ini, merupakan fenomena yang dikhawatirkan akan mengarah pada disintegrasi bangsa, sehingga muncul wacana baru yang menimbulkan pro-kontra, yaitu tentang negara federal. Dari salah satu kolomnya, Tempo (edisi 03-09/1/2000), Benedict Anderson-yang profesor dari Amerika itu-mengatakan, berangkat dari suatu pemikiran kebersamaan yang dibayangkan (imagined communities) maka adalah sah untuk memikirkan ulang tentang keberadaan suatu komunitas untuk membentuk suatu bangsa. Kejadian dari beberapa negara pun dijadikan referensi secara empiris. Yang disebut sebagai berhasil misalnya Amerika dan Malaysia. Yang tak berhasil dan justru menjadikan bencana misalnya Yugoslavia dan Uni Soviet.

Untuk menjawab fenomena itu, mengapa harus ke pendidikan? Dari banyak literatur ada bukti, perilaku masyarakat amat erat kaitannya dengan tingkat pendidikannya. Namun bila menilik fenomena peristiwa itu yang diduga kuat diskenario oleh aktor yang mempunyai intektual dan dana yang cukup, teori keterkaitan perilaku masyarakat dengan tingkat pendidikan menjadi tidak sepenuhnya berlaku. Yang bisa dijadikan instrumen untuk menjelaskannya tampaknya adalah peranan pendidikan dalam membangun karakter bangsa (character building). Sayang, sudah lebih dari setengah abad kita merdeka tampak sekali bahwa pembentukan karakter bangsa dalam arti yang sebenarnya tidak berjalan sebagaimana mestinya. Lebih jelas lagi selama 32 tahun Orde Baru mengendalikan negara dengan ciri yang sentralistik, pertumbuhan ekonomi dijadikan sebagai fokus pembangunan, perbedaan dijadikan barang tabu, kawalan “siaga” senjata dipakai sebagai legitimasi atas nama stabilitas untuk pembangunan. Pendidikan tidak diletakkan dalam konteks investasi strategis sehingga biaya pendidikan selalu dibuat minim, selalu di bawah 10 persen dari APBN. Konsekuensinya, dampak negatif pada lambatnya pengembangan nilai-nilai dalam membangun karakter bangsa.

Dalam kondisi ini, secara tidak sadar masyarakat tergiring menjadi “manusia robot”. Pada saat yang bersamaan muncul sifat serakah, keinginan jalan pintas dalam memecahkan persoalan hidup, kurang sensitif terhadap kelompok masyarakat lain yang sedang menderita, dan sebagainya. Semua itu karena terdorong kuat oleh dampak pembangunan terfokus pada pertumbuhan ekonomi yang dipatok tinggi, yang pada gilirannya menuju ke arah budaya konsumerisme. Gap kaya-miskin menjadi sangat lebar. Ketidakpuasan timbul di mana-mana. Krisis ekonomi menjalar cepat pada krisis politik. Dari sisi sosilogi pembangunan, meminjam thesis Rostow yang menekankan pada pendekatan prasyarat pembangunan sehingga muncul lima tahap pembangunan itu, sangat jelas bila dipakai untuk memahami fenomena yang tidak berjalan sebagaimana mestinya itu. Jadi lengkap sudah. Dari kacamata ini, tidak terlalu keliru bila kerusuhan yang berujung pada gejala disintegrasi bangsa akhirnya bersumber dari lemahnya pendidikan dalam membentuk karakter bangsa.

***

DALAM konteks memahami fenomena itu, menarik apa yang disarankan Unesco bahwa pendidikan harus mengandung tiga unsur: (a) belajar untuk tahu (learn to know), (b) belajar untuk berbuat (learn to do) dan (c) belajar untuk hidup bersama (learn to live together). Unsur pertama dan kedua lebih terarah membentuk having, agar sumberdaya manusia mempunyai kualitas dalam pengetahuan dan keterampilan atau skill. Unsur ketiga lebih terarah being menuju pembentukan karakter bangsa. Kini, unsur itu menjadi amat penting. Pembangkitan rasa nasionalisme, yang bukan ke arah nasionalisme sempit; penanaman etika berkehidupan bersama, termasuk berbangsa dan bernegara; pemahaman hak asasi manusia secara benar, menghargai perbedaan pendapat, tidak memaksakan kehendak, pengembangan sensitivitas sosial dan lingkungan dan sebagainya, merupakan beberapa hal dari unsur pendidikan melalui belajar untuk hidup bersama. Pendidikan dari unsur ketiga ini sudah semestinya dimulai sejak Taman Kanak-kanak hingga perguruan tinggi. Penyesuaian dalam materi dan cara penyampaiannya tentu saja diperlukan.

Apakah pendidikan sekarang ini belum memberikan unsur itu. Secara materi, yang tertuang dalam kurikulum, mungkin sudah. Namun dalam konteks proses pendidikan untuk membentuk karakter bangsa secara benar, tampaknya selama ini kurang atau bahkan tidak diperhatikan dengan saksama. Sebagai contoh pendidikan Pancasila yang diwujudkan dalam mata ajaran sejak sekolah dasar sampai perguruan tinggi. Penyampaian yang serba verbalitas, secara signifikan tidak akan pernah membentuk karakter bangsa. Berbagai persoalan yang ada, akhirnya cenderung dibenahi di perguruan tinggi. Mata kuliah seperti ilmu sosial dasar, etika akademik, agama dan Pancasila bahkan sampai dituangkan dalam kurikulum selama dua semester di banyak perguruan tinggi.

Dengan ramuan kurikulum sejak sekolah dasar hingga perguruan tinggi itu, apakah masyarakat merasakan adanya pembentukan karakter bangsa? Saya yakin banyak yang berpendapat belum. Beberapa peristiwa beruntun seperti disinggung di muka dan menjadikan pemicu tulisan ini memberikan justifikasinya. Maka tidak heran bila Menteri Pendidikan Nasional ingin meningkatkan pelajaran dongeng untuk pendidikan sekolah dasar, yang bisa diartikan sebagai suatu cara dalam usaha mengoreksi proses pendidikan.

Pelurusan benang merah mulai pendidikan dasar sampai perguruan tinggi perlu segera dimulai. Tiga unsur pendidian yang harus ada seperti disarankan Unesco, perlu dijabarkan dalam kurikulum mulai dari tingkat sekolah dasar hingga perguruan tinggi. Pembenahan bukan berarti harus merombak kurikulum. Bisa dengan cara melakukan revitalisasi isi pelajaran dan metode pengajaran.

Bila sepakat dan diyakini bahwa pendidian merupakan salah satu jalan untuk memperbaiki pembentukan karakter bangsa, tidak ada jalan lain kecuali meningkatkan biaya pendidikan. Cerita guru yang nyambi jadi tukang ojek dan dosen yang menjual kepakarannya dengan lebih bermotif ekonomi ketimbang pencarian kebenaran, perlu segera dihilangkan. Tidak ada pendidikan yang murah di dunia ini. Namun biaya itu masih jauh lebih murah dibanding risiko sosial dalam hidup bersama yang akhir-akhir ini terjadi di depan mata kita.

Hari Pendidikan Nasional yang diperingati setiap tanggal 2 Mei sudah saatnya dijadikan momentum untuk evaluasi diri dan titik tolak untuk memperbaikinya. Sebagai langkah awal, diskusi yang melibatkan pengambil keputusan dan praktisi pendidikan ke segala tingkatan dengan fokus pembangunan karakter bangsa melalui pendidikan, sudah mendesak untuk dilakukan. Tujuannya mengarah penyamaan visi dalam usaha memberikan masukan untuk mengoreksi proses pendidikan melalui peningkatan dan pengembangan karakter bangsa.

*) Sahid Susanto, Pemerhati pendidikan dari Yogyakarta.

April 7, 2009

berkarya dalam keterbatasan

saya baru saja ikut rapat dengan mitra lokal kami untuk membahas kegiatan mitra lokal kami untuk media. media punya arti yang luas, di wikipedia, media (atau medium sebagai bentuk singular-nya) diartikan sebagai penyimpan atau alat yang digunakan untuk menyimpan dan menyampaikan informasi atau data. media sering disinonimkan dengan media berita atau media massa. sedangkan dalam kamus besar bahasa indonesia, media diartikan sebagai alat (sarana) komunikasi spt koran, majalah, radio, televisi, filem, poster, dan spanduk.

ketika kembali melihat pada program yang kami jalani sekarang, maka pengertian media yang kami pahami adalah kegiatan apapun yang menjadi alat untuk menyampaikan informasi, data, maupun pemikiran-pemikiran para anak muda sehingga dapat diketahui oleh para anggota masyarakat yang lain. kegiatan itu bisa berupa koran, buletin, majalah dinding, filem… tapi sebenarnya juga bisa menggunakan kegiatan yang lain, seperti kegiatan budaya, olahraga, dan lainnya… karena kami berangkat dari pengertian bahwa media itu ya semua sarana…

salah satu mitra lokal kami mempunyai target untuk tiap bulan menghasilkan sebuah buletin yang berisi kegiatan para anak muda di desa. ketika teman saya menanyakan, kapan itu akan ada? teman dari mitra lokal kami berkata bahwa ini juga nanti tergantung pada kemampuan para anak muda ketika menggunakan komputer… akan diadakan pelatihan dulu.

manager kami dalam rapat internal kami selalu mengajukan contoh sederhana bagaimana buletin itu bisa dibuat tanpa harus bergantung pada kecanggihan teknologi. saya jadi teringat pengalaman saya dulu, ketika saya menemani seorang mahasiswa dari Jepang, Hikaru Ishikawa, yang melakukan penelitian mengenai pekerja rumah tangga di jogja. kami mengunjungi sebuah lembaga bernama Rumpun Tjoet Nyak Dien yang memang memberikan dukungan kepada para pekerja rumah tangga. saya ditunjukkan pada beberapa edisi buletin hasil karya para pekerja rumah tangga. buletin sederhana yang berisi gambar, puisi, cerita, yang semuanya karya tangan tanpa menggunakan teknologi komputer. kemudian karya itu digandakan dengan mesin fotokopi. itu saja. sederhana tapi bermakna.

kadang kita berpikir terlalu jauh ketika akan membuat sesuatu yang sebenarnya bukan sesuatu itu yang kita tuju melainkan pesan yang kita sisipkan di dalam sesuatu itu… tapi karena kita merasa bahwa sesuatu itu harus indah secara teknis, maka kitapun jadi mandeg ketika kita belum mampu mencapai keindahan teknis itu. padahal, kita tidak perlu berhenti… yang dibutuhkan adalah niat dan kita tahu apa tujuan kita. dengan segala bentuk sumberdaya yang mungkin terbatas, yang ada di sekitar kita, PASTI kita mampu membuat suatu karya yang bermakna.

March 27, 2009

telah terbiasa

mengubah kebiasaan memerlukan waktu yang lama, seperti juga ketika kita mencoba memahami bagaimana suatu budaya terbentuk. budaya terbentuk memerlukan waktu dan proses yang sangat lama sehingga suatu kebiasaan kemudian menjadi kesepakatan masyarakat dan akhirnya disebut sebagai budaya.

hari selasa yang lalu saya pergi ke salah satu desa tempat program kami dilaksanakan. tujuan saya pergi karena saya ingin melihat pelaksanaan kegiatan salah satu mitra lokal kami yang mengintegrasikan peace building dan psikososial dalam kegiatan olahraga. pengen tau, gimana sih integrasinya…

saya melihat latihan bola voli… menarik, pelatih dari mitra lokal kami melalui latihan bola voli itu mendorong nilai-nilai penghargaan atas diri sendiri, menghormati orang lain, sportivitas selama berlangsungnya permainan bola voli tersebut. saya, teman satu tim saya, dan pelatih tersebut juga sempat mendiskusikan apa saja yang bisa kita integrasikan melalui kegiatan latihan itu… tidak hanya melalui latihan olahraganya, akan tetapi juga keadaan lain di luar latihan tersebut.

usai latihan, pelatih mengumpulkan remaja-remaja yang berlatih dan melakukan debriefing. mendiskusikan tentang latihan juga tentang nilai-nilai hidup yang dapat dibangun dari latihan olahraga yang dapat berguna bagi peace building. yang dibahas antara lain adalah mengenai kepercayaan diri, kebersihan tempat latihan, dan membangun pola hidup sehat.

ketika pertandingan voli berlangsung, salah satu tim berisi remaja-remaja yang sudah berpengalaman, sedangkan tim lawannya kurang. tim lawan ini sempat berkata kalau tim lawan lebih hebat. pelatih kemudian mengingatkan bahwa remaja perlu percaya pada dirinya sendiri, dan jangan merasa rendah diri karena dengan latihan yang baik dan rutin, merekapun bisa menjadi lebih baik. selain itu para remaja diminta untuk membuang gelas plastik bekas minum di tempat sampah atau kardus yang telah disediakan, dan larangan untuk merokok di tempat latihan.

yang menarik kemudian adalah, seorang remaja yang telah dipilih untuk menjadi asisten pelatih, usai debriefing itu malah ternyata membuang gelas bekas minum-nya sembarangan hohohoho… saya memperhatikan si remaja ini, dan saya lihat si remaja ini menyadari kalau saya memperhatikannya, kemudian si remaja ini menendang gelas bekas minumannya ke kardus tempat sampah hehehe…

saya jadi teringat pengalaman saya dulu waktu bersama anak-anak TK di America International School di San Jose, Costa Rica. saya bersama guru TK-nya membuat materi pelajaran tentang hemat air. ketika guru berdiskusi dengan anak-anak mengenai tindkan apa yang bisa dilakukan untuk menghemat air, anak-anak TK itu berkata, tidak meninggalkan keran air terbuka. yang terjadi kemudian ketika anak-anak TK itu selesai menggambar poster hemat air, salah satu anak ketika usai mencuci tangan, dia meninggalkan keran air itu tetap terbuka hehehehe…

mungkin wajar saja, namanya itu juga anak TK… tapi yang ingin saya katakan disini adalah, perlu usaha yang terus menerus, sabar, dan tidak bosan-bosannya untuk selalu mengingatkan ketika kita ingin mengubah perilaku ke perilaku yang lebih baik…

temen satu tim saya saja ketika setelah acara itu, tanpa dia sadari, secara refleks dia membuang begitu saja plastik segel tutup botol air kemasan hehehe… lalu kamipun mengingatkan dia… :D

pasti bisa, kalau itu memang untuk hidup yang lebih baik… hidup yang damai… :)

March 18, 2009

yang kecil-kecil

tiap dari diri kita dikaruniai oleh Tuhan sebuah bahkan lebih kelebihan. ada yang pintar dalam berhitung, ada yang punya kemampuan analisis hebat, dan lainnya. saya, setelah sekian lama akhirnya menyadari bahwa saya ternyata seorang yang senang memperhatikan hal-hal kecil yang mungkin seringkali terabaikan, tapi sebenarnya disanalah kunci untuk membuat perubahan.

perhatian terhadap hal-hal kecil ini pada awalnya tidak saya sadari. ini berjalan begitu saja, sampai ketika saya ditawari untuk menjadi trainer untuk menseleksi sukarelawan sebuah lembaga, disitulah kesadaran itu muncul. di akhir training saya mendapat komentar bahwa saya memberikan masukan-masukan bagus karena saya melihat hal-hal kecil yang terabaikan tetapi sebenarnya penting. usai training, saya hanya menganggap itu sebagai masukan. atau kalau itu dianggap sebagai pujian, saya terima itu biasa saja.

ketika untuk kedua kalinya saya diminta organisasi yang sama untuk menjadi trainer untuk hal yang sama, kembali lagi masukan yang sama yang saya terima, dan sejak itu saya memikirkan dengan lebih dalam mengenai masukan itu… saya kemudian melihat lagi kecenderungan yang biasa saya lakukan, dan ternyata benar demikian… saya cenderung untuk mencari hal-hal yang kecil dan mungkin remeh, tetapi sebenarnya punya peran besar dalam suatu perubahan.

contoh2 dari hal2 kecil itu adalah masalah membereskan sampah setelah pertemuan, pemilihan kata dalam berbicara, bagaimana cara seseorang memberikan sesuatu, dan lainnya. saya kemudian berpikir bahwa memang saya harus mengembangkan hal ini, menjadi orang yang memperhatikan hal-hal kecil, karena saya yakin bahwa yang kecil pun bisa memberi kontribusi signifikan untuk kebaikan orang banyak…

mari kita lihat diri kita, temukan kelebihan kita, dan kita hargai kelebihan yang kita miliki… mengapresiasi, mensyukuri, tanpa harus membuat kita menjadi sombong :)

March 15, 2009

syariat islam

Tadi saya pergi beli makan siang. Seperti biasa, saya naik sepeda. Di tiap perempatan, ketika lampu pengatur lalu lintas menyala merah, maka saya pun berhenti dan menunggu sampai lampu menyala hijau. Dan saya dengan bangga dan amat senang hati berhenti di tengah jalan, menghalangi kendaraan di belakang saya yang mau nggak mau jadi harus ikut berhenti selama lampu lalu lintas menyala merah. PUASSSSS hahahaha…

Masalah serobot-menyerobot di perempatan, di kota ini memang sudah menjadi pemandangan biasa tiap hari. Tidak mematuhi lampu lalu lintas dan tidak mengenakan helm, adalah hal yang sudah teramat sangat biasa ditemui di kota ini. Bahkan yang lucu, saya yang malah sering diperhatikan dengan tatapan heran oleh orang2 pelanggar lalu lintas ketika saya berhenti di lampu merah.

Tiap hari dan tiap kali melihat pemandangan itu, saya memang selalu merasa terusik dan geregetan. Mengapa sih orang-orang ini masih seenaknya begitu. Kalau mengingat kembali pada apa yang saya katakan pada Buba (yang meng-interview saya ketika saya masuk ke organisasi ini), waktu Buba bertanya, sektor apakah yang harus menjadi prioritas utama untuk diperbaiki di Aceh, maka saya menjawab dengan tegas dan pasti: pendidikan.

Jangan tersinggung kalau kemudian saya bilang kalau orang-orang yang tidak mematuhi peraturan lalu lintas itu adalah orang-orang yang tidak berpendidikan. Tapi memang kenyataannya begitu. Hanya orang-orang yang berpendidikan lah yang tahu apa guna peraturan lalu lintas itu dibuat. Jadi, walau mungkin anda itu lulusan s2 atau s3, selama kelakuan di lalu lintas masih seperti orang barbar, ya maaf2 saja, anda itu bukan orang yang berpendidikan.

***

Aceh sudah memproklamirkan diri sebagai daerah dengan syariat islam. Bahkan ada petugas yang bertugas untuk menegakkannya, yang namanya WH (saya ga tau itu kependekan dari apa…). Syariat Islam… hukum yang didasarkan pada agama Islam. Setahu saya, dalam Islam itu ada yang namanya hubungan antara makhluk dengan Tuhan, dan hubungan antar makhluk/manusia. Hablum minallah dan hablum minanaas, begitu ya?

Bentar, saya ganti topik dulu. Sampai disini saya jadi agak2 terusik pengen tahu. Kalau di agama Hindu Bali, ada yang namanya konsep Tri Hita Karana (makasih buat Kadek Krishna Adidharma yang memperkenalkan ini pada saya). Tri Hita Karana ini berbicara mengenai hubungan antara Tuhan, manusia, dan unsur yang ketiga adalah alam. Nah, saya jadi berpikir, kalau hubungan dengan alam ini, di Islam, masuknya dimana ya? Saya yakin pasti ada, tapi saya belum menemukannya. Ada yang mau bantu saya? – udah saya dapat jawabannya, terimakasih buat teman saya, Agus… yang ketiga di Islam adalah Hablum minal ‘alam

Baik, kembali ke Syariat Islam tadi. Saya sangat yakin dan percaya bahwa dalam Syariat Islam itu yang diatur adalah segala aspek dalam kehidupan manusia… jadi nggak hanya melulu soal aurat, miras, zinah, ya yang gitu2 lah… urusan ketertiban juga pasti ada dalam syariat islam. Kan syariat islam itu dibuat agar semua aspek kehidupan itu berjalan dengan baik dan membawa kebaikan.

Jadi, kalau saya hubungkan antara syariat islam dengan pelanggaran lalu lintas di kota ini, saya rasa mereka2 ini yang melanggar lalu lintas juga masuk dalam kategori pelanggar syariat islam juga.

Kalau mau menerapkan syariat islam, terapkanlah yang sebenarnya dan seutuhnya.

March 7, 2009

Strategi Peace Building = Strategi Berkomunikasi

Membuat suatu perubahan, apalagi jika yang dituju adalah perubahan yang mendasar, seperti perubahan pola tingkah laku dan cara berpikir, maka diperlukan strategi yang tepat, yang harus dipikirkan masak-masak, agar nantinya – sesuai dengan pendekatan Do No Harm – apa yang kita lakukan tidak membawa pada kerusakan… kita tidak menjadi pemisah, akan tetapi kita menjadi penghubung bagi usaha menuju kebaikan bersama.

Hari ini, kami semua, tim saya bersama partner lokal melakukan pertemuan untuk membahas kegiatan yang telah kami laksanakan sejauh ini… apa saya yang bis akita evaluasi, perbaiki, menemukan tantangan, dan apa keberhasilan yang sudah dicapai juga.

Beberapa hal menarik saya catat dari pertemuan tersebut sebagai poin2 penting yang perlu diperhatikan ketika kita menyusun strategi.

Pertama adalah percaya pada kemampuan dan pengalaman diri, juga mitra kerja kita. Sebagai pihak yang membawakan kegiatan, ketika kita terdiri dari beberapa orang, pasti tiap orang datang dengan membawa kemampuan dan pengalaman masing-masing. Kita sebagai sebuah pribadi harus percaya dulu pada kemampuan kita… kemudian kita juga harus percaya bahwa teman-teman kita juga punya kemampuan dan pengalaman yang sama dan sejajar dengan kita. Diperlukan adanya rasa saling menghormati, menghargai, dan mempercayai agar kita bisa menjadi sebuah tim yang solid dan kuat. Ketika dirasa ada salah satu pihak yang kurang sesuai dengan tujuan bersama, maka membuka ruang diskusi, memecahkan masalah bersama adalah cara yang paling tepat. Tidak dengan mendiskreditkan pengalaman dan kemampuan dari teman kita, tapi dengan mengajak teman-teman semua untuk memikirkan apa sih yang jadi tantangannya dan bagaimana kita sebagai satu tim bisa menyelesaikannya bersama. Cara kita berkomunikasi menjadi sangat penting… membuat suatu percakapan yang tidak berkesan memojokkan menjadi kunci utamanya.

Kedua adalah kerjasama dan kolaborasi. Seperti dinayatakan dalam salah satu prinsip untuk membuat kegiatan peace building, maka kerjasama dan kolaborasi adalah salah satu prinsipnya. Kita nggak bisa kerja sendiri… peace building itu masalah saling melengkapi, masalah saling mengisi… keberhasilan usaha membangun perdamaian adalah keberhasilan dari semua sektor kehidupan. Dan semua sektor sama pentingnya. Jadi… kembali lagi, berkomunikasilah agar kita bisa saling tahu apa yang kita kerjakan, dan kita lihat dimana kita bisa saling mengisi dan kerjasama.

Ketika berbicara dengan pihak-pihak yang terlibat dalam usaha peace building, dan kita melihat pada hierarki kekuasaan, maka kita akan melihat ada 3 strata. Yang paling atas adalah mereka yang punya kekuasaan secara resmi, para pembuat kebijakan… yang di tengah adalah penguasa2 informal seperti tokoh agama dan tokoh masyarakat – mereka yang dihormati dan didengarkan oleh masyarakat, kemudian di lapis paling bawah adalah masyarakat umum. Untuk meng-golkan usaha kita, mendekati pihak yang berada di pihak paling atas juga di tengah adalah hal yang penting… karena mereka adalah pemberi legitimasi, baik yang resmi maupun informal. Tapi tetap juga kita harus memperhatikan masyarakat umum yang ada di lapis terbawah.. tetap mereka juga punya kuasa, dan terlebih lagi mereka adalah target… jadi kita harus memperhatikan apa yang sebenarnya mereka butuhkan. Kekuasaan ada di tangan mereka. Lagi2 disini kita perlu memperhatikan cara kita berkomunikasi agar kita dapat mendapat persetujuan dari pihak-pihak yang punya kuasa itu agar kegiatan kita berjalan lancar.

Dimana bumi dipijak, disitu langit dijunjung… menghormati adapt istiadat setempat menjadi hal sangat penting yang harus diperhatikan. Apalagi ketika kita masuk dalam suatu daerah yang sangat menjunjung adapt istiadat. Jangan sampai deh kita malah menjadi trouble maker hanya karena kita ingin menawarkan (ingat… bahkan ketika pada tahap menawarkan saja!!!) sesuatu yang baru. Dan bagaimana agar tidak terjadi mis-komunikasi ketika kita menawarkan sesuatu yang baru dan tidak dianggap sebagai trouble maker? Sekali lagi komunikasi… hehehe…

Lain lubuk lain ikannya. Tiap daerah punya sifat karakteristik masing-masing. Baik, mungkin pernah kita berhasil di suatu daerah yang mungkin kita lihat punya banyak kemiripan dengan daerah yang kita datangi sekarang, tapi selalu ingatlah pepatah lain lain lubuk lain ikannya. Tiap daerah punya karakteristik masing-masing yang khusus, yang tidak bisa diberi resep yang sama. Itulah mengapa kegiatan membangun perdamaian sangat beragam, penuh kreatifitas dan inovasi. Karena kita harus selalu memenuhi kebutuhan yang disesuaikan dengan karakter daerah masing-masing. Perlu suatu assessment dan analisis yang dalam sebelum kita sampai pada keputusan untuk melakukan suatu aksi. Kumpulkan data sebanyak mungkin, analisis sedalam mungkin. Untuk tahu apa sih keunikan ataupun karakter masing-masing daerah? Jangan segan-segan untuk selalu berkomunikasi.. bertanya sebanyak mungkin… perbanyak bank data kita.

Membangun perdamaian adalah membangun budaya, karakter diri pribadi dan masyarakat sehingga hidup kesehariannya dipenuhi nilai-nilai perdamaian. Dan perubahan seperti apa yang paling baik? Yaitu perbuhan dari dalam masing-masing individu. Perubahan cara pandang, perubahan perilaku, bukanlah usaha instan yang dalam sekejap bisa terjadi. Seperti halnya budaya yang terbentuk dalam masyarakat selama bertahun-tahun… maka perubahan diri pribadi juga perlu waktu yang panjang… perubahan diri tidak bisa dipaksakan. Kalau dipaksakan, maka yang terbentuk bukanlah suatu perubahan yang alamiah, tapi perubahan yang terpaksa, yang malah hanya akan menimbulkan masalah-masalah baru. Bagaimana cara menumbuhkan kesadaran untuk mau berubah? Untuk terakhirnya saya bilang komunikasi. Komunikasi yang intens, terus menerus, disesuaikan dengan keadaan, disesuaikan dengan kebutuhan.

Dari semua hal diatas yang saya sampaikan, maka benang merahnya adalah komunikasi. Komunikasi dengan berbagai cara, baik verbal maupun non-verbal. Membangun strategi peace building yang baik adalah membangun strategi untuk mengkomunikasikan perubahan… dan mengkomunikasikan perubahan ini ada banyak bentuknya, melalui kegiatan, melalui dialog verbal, melalui tulisan, melalui olahraga, melalui berbagai cara kreatif lainnya.

Jangan pernah berhenti berpikir kreatif. Jangan pernah puas dengan hasil yang telah kita capai. Jangan pernah berhenti membangun komunikasi yang aktif, positif, dan tanpa kekerasan.

March 2, 2009

belajar disiplin

sampai sekarang saya masih teringat kejadian beberapa waktu lalu di sebuah pasar swalayan di kota saya. selesai mengambil barang-barang yang akan saya beli, saya pun melangkah ke kasir. saya pilih yang paling pendek antriannya. saya antri, berdiri di belakang seorang ibu. untuk beberapa waktu, tidak ada orang yang datang dan ikut antri berdiri di belakang saya.

ketika antrian di depan saya mulai maju, mulai berdatangan orang yang akan ke kasir juga, dan mereka berdiri di belakang saya. seiring dengan itu, datang seorang ibu dengan anaknya yang masih kecil (usia SD) menuju antrian kami. ibu itu tidak berdiri di belakang, tapi dia berdiri di samping saya. perlahan antrian di depan saya maju, dan ibu itu melakukan gerak-gerik yang mencurigakan… kakinya yang satu siap2 diselipkan di depan saya… siap2 mau menyerobot antrian. dan gerakan aksi menyerobot itu semakin kuat ketika antrian depan saya mulai maju.

saya adalah seorang yang sangat jarang marah. tapi jangan tanya seperti apa saya marah kalau ada sesuatu hal yang melewati batas. terakhir kali saya marah yang saya ingat adalah beberapa waktu lalu, kepada seorang mahasiswa mprk… yang saya sampai mengeluarkan kata2 yang tidak pantas.

dan kali ini… ibu itu telah mengusik batas kemarahan saya. saya teramat sangat marah dengan aksi dia yang mau menyerobot antrian saya. tapi saya berusaha menahan diri. dengan badan bergetar karena menahan marah yang teramat sangat, saya berkata pelan dan tegas kepada ibu itu: ibu, saya sudah antri dari tadi disini. ibu itu dengan gaya sok lugu bilang: saya dari tadi sudah berdiri disini kok. saya kembali lagi berkata dengan pelan dan tegas kepada ibu itu: ibu, dari tadi saya yang sudah berdiri disini… sambil saya menggeser kaki ibu itu. ohhhhh dalam hati saya, saya sudah mengeluarkan segala sumpah serapah kepada ibu itu… betapa gak tau malu-nya ibu itu… dia, berani berbohong di depan anaknya untuk suatu hal yang sangat bodoh. kasihan sekali anak si ibu itu mendapat contoh yang amat sangat tidak baik dari ibunya… dan bukan hanya satu hal, tapi 3: pertama, contoh bahwa ibunya adalah orang yang gak disiplin, kedua bahwa ibunya ternyata pembohong, ketiga bahwa ibunya adalah seorang yang tidak menghargai orang lain… semoga anak itu tidak meniru sifat ibunya… amin…

ini pemandangan yang masih sangat umum ditemukan, terutama di indonesia. di tempat saya berada sekarang ini… jangan tanya deh, berapa banyak kejadian seperti yang saya alami… teman2 saya mempunyai pengalaman yang serupa dengan saya ketika saya menceritakan hal tersebut.

contoh lain lagi, ketika saya berangkat ke kantor naik sepeda. ketika di perempatan menyala lampu merah, sayapun berhenti, tapi dengan dodol-nya, seorang polisi menyuruh saya untuk jalan terus menerobos lampu merah.. lah.. si pak polisi ini menyuruh saya mati, apa??? pihak yang punya tanggung jawab menjaga kedisiplinan pengguna jalan raya, malah melakukan hal yang berlawanan dengan tugas-nya… duh…

dan betapa tidak disiplinnya pengguna jalan raya di kota saya tinggal ini, dapat dilihat di setiap perempatan. saya pernah menemani teman saya yang sedang melakukan penelitian tentang berapa pengguna jalan raya yang melanggar lampu merah. dan hasilnya… dalam sekitar 10 menit kami memperhatikan dan menghitung… SEMUA pengguna jalan raya dari sisi yang kami pantau, SEMUANYA melanggar lampu merah!!!

gimana sih sebenarnya cara untuk menumbuhkan rasa kedisiplinan itu?

kalau sistem pendidikan jaman dulu sih bilangnya kalau upacara bendera hari senin itu adalah cara untuk menumbuhkan sikap disiplin. haloooo??? itu para pelanggar lampu merah, itu si ibu penyerobot antrian, dulunya juga ikut upacara bendera tiap hari senin… tapi kok hasilnya gitu??? makanya, ketika kemarin di training untuk partner lokal, ada peserta yang bilang bahwa upacara bendera hari senin berguna untuk melatih kedisiplinan, maka saya bilang kalo itu gak berguna untuk melatih kedisiplinan!!!

jadi… gimana dong cara kita belajar disiplin?

kalau saya, saya belajar disiplin ketika saya mengerti bahwa disiplin itu berguna… ketika saya tahu bahwa dengan disiplin maka saya menjadi lebih aman. dan dengan disiplin saya juga menjadi memiliki kekuasaan.

bener deh… siapapun pasti seneng kalo punya kekuasaan, punya power. jadi, selama kita berdisiplin, sebenarnya kita jadi punya kekuasaan. taruhlah gini, anda menyeberang di zebra cross, kemudian ada pengendara motor gede yang seenaknya dengan sok-sokan ngebut dan tidak memelankan laju kendaraannya ketika melewati zebra cross padahal waktu itu ada anda yang sedang menyeberang jalan. kalau ada apa2, andalah yang menang. anda sudah benar, berjalan di jalur yang benar, dan si pengendara motor gede yang dodol itu gak punya kuasa apa2 (saya masih jengkel sama seorang pengendara motor gede yang kemaren masi ngebut aja ketika saya menyeberang di merdeka walk).

jadi… mari kita kumpulkan kekuasaan!!! tapi dengan cara yang benar ya… dan kemudian, gunakanlah kekuasaan yang kita miliki untuk kebaikan… ;)

February 22, 2009

berbahasa yang mudah

tulisan ini kelanjutan ataupun ada hubungannya dengan tulisan saya terdahulu, Membumikan Ilmu.

pikiran ini muncul lagi sudah agak lama, ketika saya punya tugas untuk menyusun buku panduan tentang Peace Building, yang dapat dibaca oleh siapapun dan apapun latar belakangnya. sungguh tantangan yang sangat berat.

pertama, sebanyak apakah informasi yang bisa saya tulis dan sampaikan tanpa membuat kehilangan maksud bahwa nantinya para pembacanya setidaknya punya pengetahuan dasar tentang Peace Building. kedua, bagaimana diksi atau pilihan katanya. dan mencari kata-kata yang sederhana itu sungguh sangat susah. menyusun sebuah kalimat yang sederhana tapi bermakna juga sangat susah. sudah berapa lama saya berkutat dengan draft buku panduan dan saya terus berulang kali kembali lagi dan kembali lagi merevisi, meng-edit karena saya merasa kurang nyaman dengan pilihan kata dan kalimat yang saya pilih.

minggu depan ini saya akan memberikan training mengenai Do No Harm dan Peace Building, dan saya sedang menyiapkan materinya. beberapa materinya saya kirimkan ke teman-teman tim saya, dan saya sudah mendapat masukan untuk menyederhanakan lagi bahasa yang saya pilih, dan saat ini saya sedang mengerjakan perbaikan itu.

pada dasarnya, saya juga bukan orang yang pandai berkata-kata indah… bahkan saya kadang kesulitan kalau harus menulis berpanjang-panjang dengan kata-kata yang “ajaib” yang kadang bikin saya minder… kok saya gak bisa ya pake istilah-istilah “ajaib” itu dan membuat say berpikir, apakah saya bodoh ya, gak tau istilah2 dan hanya bisa nulis pendek2… huhuhuhu…

time and mind consuming sih… tapi saya senang karena buat saya, ketika saya bisa menjadi sederhana tapi bermakna, itulah capaian yang terindah bagi hidup saya…

okie deh, saya mau melanjutkan pekerjaan saya… semoga saya puas dengan hasil editan saya nanti hehehe…

tulisan ini saya dedikasikan untuk 2 orang guru saya, pak nanang dan pak rizal, yang selalu bisa membuat segala sesuatunya sederhana tapi bermakna… :)

February 22, 2009

rokok dan perdamaian

saya ANTI rokok.

jadi, selanjutnya di tulisan ini anda para pembaca pastinya sudah dapat menduga, seperti apa isi tulisan saya hehehe…

ide tulisan ini muncul dari kecenderungan yang saya lihat akhir-akhir ini, begitu tambah banyak saja para perokok, apalagi perokok muda, baik anak laki-laki maupun perempuan. di tim saya, 8 orang. 4 orang merokok (laki-laki semua – eh, agus merokok gak sih? lupa hehehe…) dan 4 orang lagi tidak, 2 laki-laki dan 2 perempuan. di kantor saya, buanyak yang merokok… di luar kantor, banyak juga… di desa yang saya kunjungi kemarin, fasilitator partner lokal, dan anak-anak mudanya – yang laki-laki, hampir semuanya merokok.

barusan teman baik saya, yang sedang chatting dengan saya, bertanya, lu lagi ngapain? saya bilang, saya sedang menulis di blog, judulnya rokok dan perdamaian. dan dia belum tahu apa isi tulisan saya hehehe… tapi dia berkomentar begini: “gue juga merasa merokok mengakrabkan antara teman kok” jadi, mari kita simpan dulu komentar teman saya ini… nanti kita bahas.

baik, kembali ke sudut pandang dulu. saya ini adalah seorang yang mengutamakan pendekatan personal. memulai segala sesuatu dari diri sendiri dulu, kemudian mulai melebar, membesar, menyentuh lingkungan di luar diri sendiri.

sudah jadi pemahaman umum kan mengenai bahaya rokok bagi kesehatan? di kotak rokok juga ditulis kok tentang bahaya rokok. nah… saya sedang berpikir tentang mereka, pekerja perdamaian, aktivis perdamaian, orang-orang yang katanya peduli perdamaian. bagi saya, seorang yang peduli perdamaian, aktivis perdamaian, harusnya memulai perdamaian itu dari diri sendiri. pertama, karena bagaimana dia akan bicara tentang perdamaian ketika dia belum bisa berdamai dengan diri sendiri. kedua, seorang yang peduli tentang perdamaian harus sadar bahwa dia akan menjadi model, menjadi contoh. jadi, practice what you preach.

merokok, bagi saya adalah bentuk kekerasan yang dilakukan oleh seseorang kepada diri sendiri… dan ingat, bukan pada diri mereka sendiri tapi juga pada orang-orang di sekelilingnya yang menjdi perokok pasif. gimana mo promosi perdamaian kalo dia sendiri dengan sadar memasukkan racun dalam diri mereka sendiri… ya namanya gak damai dengan diri sendiri tho?

jadi disini saya ingin mengajak para perokok yang pekerja perdamaian untuk melakukan refleksi diri… merenungkan kembali. kalau anda ingin menjadi aktivis perdamaian yang benar2 berkomitmen. saya tidak mau menghujat, tapi saya mengajak anda untuk berpikir lagi… perubahan yang terbaik adalah perubahan yang muncul dari kesadaran diri.

trus, kembali ke komentar teman saya tadi, “gue juga merasa merokok mengakrabkan antara teman kok” bagaimana menurut anda? kalau saya, ya… saya sering lihat, para perokok seperti punya rasa solidaritas. mereka kalau mau merokok kemudian ngajak2, keluar bersama, merokok bareng sambil ngobrol, dan bahkan tak jarang dari obrolan itu mungkin muncul ide2 yang brillian. dan itu kemudian digunakan untuk melegitimasi bahwa rokok itu punya manfaat positif. tapi, rokok bukan satu2nya kan? bisa kok diganti dengan hal2 lain…

mungkin para perokok akan bilang, “ah kau kan tak pernah merokok, tau apa kau?” ya karena bagi saya, rokok itu candu, yang kemudian membuat perokok menjadi berpikir bahwa seolah-olah rokok adalah yang punya peran utama. itu analisis yang belum menyeluruh… masih perlu dikaji lagi sebenarnya apa sih yang menjadi faktor utama penyebab kita bisa memulai ide2 brilian, atau mempererta pertemanan kita? saya tidak ingin membahas terlalu banyak disini walaupun sudah ada pikiran2 itu, karena saya tetap ingin menjaga tulisan saya untuk tidak terlalu panjang…

jadi, kalau ada yang mau berkomentar… silakan… :)

February 21, 2009

hal kecil untuk sesuatu yang besar dan berkelanjutan

hari ini saya berkesempatan untuk pergi ke lapangan, hadir pada pertemuan dengan anak-anak muda di desa. hal yang selalu saya tunggu, akan tetapi sangat jarang saya dapatkan karena kesibukan saya di kantor. tapi alhamdulillah hari ini urusan saya menulis-nulis modul dapat saya selesaikan cukup awal, sehingga saya bisa ikut pergi ke desa.

tujuan saya untuk ikut pergi ke desa adalah untuk melihat secara langsung bagaimana keadaan di lapangan, dan untuk melihat, di bagian mana sih unsur peace building itu akan masuk dalam program yang kami miliki. ketika saya hanya ada di kantor, dan hanya membaca laporan dari teman-teman yang pergi ke lapangan, saya kadang merasa kesulitan untuk menempatkan dimana unsur peace building-nya nanti yang secara praktikal.

tadi saya ada di desa. ikut menghadiri pertemuan dengan anak muda. dan saya mulai dapat mem-figure out (duh apa sih bahasa indonesia-nya huhuhuhu…) bagaimana saya akan menjelaskan pada partner lokal kami, dimana sih letak peace building ini dalam program kita. o ya, minggu depan kami akan memberi training untuk partner lokal mengenai konsep-konsep yang kami gunakan dalam melaksanakan program, dan salah satunya adalah konsep peace building.

di akhir acara, setelah acara ditutup oleh fasilitator, maka anak-anak muda yang menghadiri pertemuan pun meninggalkan ruangan meunasah. sontak ada pemandangan yang membuat saya terusik, dan menemukan, inilah pintu masuknya. pemandangan pada saat itu adalah: anak-anak muda pergi meninggalkan ruangan, dan gelas-gelas air mineral yang kosong dan kotak-kotak makanan ditinggalkan di dalam ruangan. kemudian teman-teman partner lokal dan dibantu 2 orang anak muda, mulai mengumpulkan gelas-gelas air mineral dan kotak makanan itu untuk dibuang di tempat sampah.

peace building, membangun perdamaian (itu terjemahan yang kami pakai) dapat dimulai dari yang besar… tapi bisa juga dimulai dari yang kecil… dan biasanya – atau bisa dikatakan malah selalu, dari yang kecil ini yang dapat menjaga perdamaian yang berkelanjutan.

dari saya pribadi, yang inginkan dari program ini ketika program ini selesai, bukanlah sekelompok anak muda yang mampu tampil dalam masyarakatnya untuk menyelesaikan masalah dalam masyarakat dengan keterampilan negosiasi, mediasi, dan lainnya yang cukup rumit. yang saya bayangkan adalah sekelompok anak muda yang punya perubahan pola pikir. pola pikir yang memikirkan kemaslahatan bersama.

bagi saya, program ini dikatakan berhasil ketika di akhir program, anak-anak muda ini merasa risih dan terganggu jika melihat ada orang buang sampah sembarangan. anak-anak muda ini tanpa disuruh langsung memungut sampah yang tercecer dan membuangnya di tempat sampah. anak-anak muda ini ketika mengeluarkan pendapat, mereka menghargai urutan. mereka tidak memotong pendapat orang lain dan menghargai pendapat orang lain, tidak menertawakan.

hal-hal kecil yang mungkin sepele, akan tetapi sebenarnya adalah pondasi yang sangat diperlukan untuk membangun perdamaian yang berkelanjutan. melatih kedisiplinan anak muda melalui acara upacara bendera adalah non sense. upacara bendera tidak membuat anak-anak muda menjadi disiplin akan tetapi menjadi penakut atau malah jadi pemberontak. akan tetapi ketika anak-anak muda itu secara terus menerus di tiap akhir acara pertemuan diminta untuk menempatkan gelas-gelas air mineral dan kotak makanan mereka di tempat sampah, dan pada saat yang sama dijelaskan juga pada mereka apa tujuan dari permintaan itu, maka ini akan menjadi sebuah kebiasaan yang akhirnya menumbuhkan kedisiplinan.

itu harapan saya.