lagi-lagi tentang media… (pandangan saya atas pelaporan media mengenai terjadinya gempa di sumatera barat)

“Di perut Sumatera terbentang bom waktu berupa Patahan Semangko, hasil penunjaman Lempeng Eurasia thd Lempeng Indo-Australia yg melesak dg kecepatan 5-7 cm per tahun. Seorang pakar gempa bahkan menyebut Gempa Pariaman kemarin masih lebih kecil skalanya drpd yg diprediksikan.”

Demikian status di facebook yang ditulis oleh seorang kawan karib saya yang saat ini bekerja sebagai jurnalis di sebuah stasiun televisi swasta. Bagaimana perasaan anda ketika membaca kalimat tersebut? kalau saya, saya merasa itu informasi yang besar, menakutkan, dan cukup membuat saya panik dan tidak tenang, karena saya tidak tahu harus ngapain dengan informasi itu.

Tadi pagi saya secara random menonton siaran televisi untuk melihat laporan mengenai kejadian gempa di sumatera barat. Di sebuah stasiun televisi swasta saya berhenti sejenak memperhatikan siarannya. Disitu ditampilkan dua layar. Layar dari Padang, seorang bapak diwawancarai oleh presenter berita dari studio di Jakarta. Anak perempuan bapak tersebut menjadi salah satu yang masih tertimbun reruntuhan bangunan sekolah. Kemudian sang presenter tersebut menanyakan beberapa pertanyaan bertubi-tubi… “apa kenangan sang bapak terhadap anaknya?” lalu bapak tersebut bercerita mengenai perjalanan lebaran ke bukittinggi, dan sang anak dibelikan jam tangan. kemudian sang presenter bertanya, “bagaimana perasaan anak bapak?” “apakah dia senang dengan jam tangan itu?” dan mulailah bapak tersebut terisak menangis… saya matikan televisi.

Dua cerita tadi, status FB dan cara presenter televisi mewawancarai narasumber, membuat saya geregetan. Sadarkah mereka apa sebenarnya fungsi mereka sebagai jurnalis? apakah hanya untuk membuat suasana drama? oya, saya jadi ingat… semua acara televisi di Indonesia kan isinya hanya drama rekayasa… yang dijual hanya orang marah2, nangis2… dan saya kira itu hanya di acara2 non berita, tapi ternyata di acara berita juga menawarkan format yang sama.

Ya, saya sering mendengar bahwa bagi jurnalis, bad news is good news. Tapi apakah hanya berhenti disitu saja tugas mereka? untuk menyampaikan informasi saja? Sadarkah mereka bahwa mereka itu juga pendidik bagi penonton televisi? Dan mereka punya kesempatan SANGAT BESAR untuk membuat penonton siaran televisi menjadi LEBIH CERDAS.

Informasi yang disampaikan oleh teman saya lewat status FB itu sangat penting, tapi akan jauuuuhhh lebih baik jika dibahasakan ulang dan juga disertai informasi lain mengenai bagaimana kita harus menyikapi keadaan seperti itu; informasi yang masih sangat minim kita dapatkan dari acara-acara televisi kita. Kabarkanlah, apa yang harus dilakukan oleh masyarakat kalau ada gempa susulan untuk mengurangi risiko bencana.

Pemberian pengetahuan pada penonton ataupun pembaca mengenai siaga bencana adalah jauh lebih berharga daripada informasi bombastis yang ditulis teman saya tersebut, ataupun berusaha menguras airmata sang bapak tadi.

Advertisement

1 Comment

Filed under Uncategorized

One Response to lagi-lagi tentang media… (pandangan saya atas pelaporan media mengenai terjadinya gempa di sumatera barat)

  1. Setuju 100% Mas Dodie! Saya kira, selain tujuan nista serendah melodramatisasi atas fakta, ada satu fakta yang mungkin sampean sungkan untuk menyebutnya keras-keras. Baik, saya bantu nih: Banyak wartawan tivi yang nggak cerdas! :D

    Baru tadi pagi saya lihat, ada liputan di satu stasiun tivi, tentang beberapa bule yang melakukan “poverty tourism” alias wisata kemiskinan di sudut2 Jakarta. Apa yang diliput? Tuhankuu, ternyata sang jurnalis cuma banyak menampilkan kegiatan jalan2 para bule itu, serta betapa senangnya para warga miskin itu dijadikan tontonan bule! Ini gila, menurut saya. Seharusnya kalau wartawan itu otaknya jalan, ada pembacaan kritis di sini, tujuan bule2 itu apa, apa kontribusinya bagi kaum miskin kota itu, dan kalau memang turisme yang mereka jalankan, ya harus bayar dong! Bukan ke pemprov, tapi mereka2 yg ditonton itu dikasih apa lah, yang layak, karena sudah jadi objek pemuasan nafsu narsisus mereka: orang kaya yang tersenyum-senyum menikmati kemiskinan orang lain… Huh!

    *sori Mas numpang emosi :) ))

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s